Zuhairi Misrawi

Sumenep, Madura, Jawa Timur · 1977
Zuhairi Misrawi
Lahir 1977
Sumenep, Madura, Jawa Timur
Afiliasi Nahdlatul Ulama (NU), Duta Besar RI untuk Tunisia
Pendidikan
  • Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir
Bidang agama, politik, sejarah

Pokok Pikiran & Kontribusi

Mengadvokasi moderasi beragama (Wasathiyah) dan pluralisme melalui reinterpretasi sejarah politik Islam (Piagam Madinah) serta penguatan nilai-nilai toleransi dalam Al-Qur'an.

Zuhairi Misrawi adalah seorang intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU) dan diplomat yang memiliki kontribusi penting dalam memperkaya diskursus Islam moderat dan pluralisme di Indonesia. Sebagai lulusan Universitas Al-Azhar, Kairo, ia memiliki otoritas intelektual yang kuat untuk menjembatani tradisi keislaman klasik (turats) dengan metodologi riset modern. Kiprahnya melintasi berbagai ranah, mulai dari pemikir di Moderat Muslim Society, aktivis kemanusiaan, hingga mengemban amanah sebagai Duta Besar RI untuk Tunisia, menjadikannya salah satu diplomat intelektual yang vokal dalam mempromosikan wajah Islam Nusantara yang ramah di kancah internasional.

Pemikiran utama Zuhairi berfokus pada upaya membela nilai-masing toleransi dalam Islam. Melalui bukunya, Al-Qur’an Kitab Toleransi, ia memberikan pembelaan teologis yang komprehensif terhadap prinsip kebinekaan dan menolak segala bentuk ekstremisme yang mengatasnamakan agama. Ia juga melakukan analisis sejarah yang mendalam melalui karya Madinah, di mana ia menempatkan Piagam Madinah sebagai fondasi konstitusi modern yang menjamin kesetaraan hak warga negara tanpa memandang perbedaan iman. Baginya, pluralisme bukan sekadar pengakuan atas keragaman, melainkan keterlibatan aktif untuk membangun persaudaraan kemanusiaan yang berbasis pada nilai-nilai Pancasila.

Selain isu toleransi, Zuhairi juga aktif meneliti jejak intelektual dan spiritual Islam di Nusantara, termasuk pengaruh Hadramaut dan jaringan ulama Timur Tengah. Ia meyakini bahwa Islam di Indonesia memiliki keunikan sosiokultural yang harus dijaga sebagai modal diplomatik global. Melalui tulisan-tulisannya yang produktif di berbagai media massa, ia terus mendorong umat Islam untuk berani melakukan reinterpretasi teks agar tetap relevan dengan tantangan hak asasi manusia dan demokrasi. Warisan pemikirannya menawarkan perspektif yang optimis tentang bagaimana agama dapat menjadi energi positif bagi kemajuan peradaban dan perdamaian dunia.

Karya Utama

  • Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Nabi Muhammad SAW (2009) Buku
  • Al-Qur’an Kitab Toleransi (2007) Buku
  • Hadramaut: Jejak Spiritual dan Intelektual (2010) Buku

Sumber Referensi

Kontributor

Anonim

Diperbarui: 7 Maret 2026